Halaman

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Mei 2010

Usia 19 Tahun Mendapat Gelar Dokter UGM

alexander Prestasi luar biasa ditorehkan oleh Alexander Randy Angianto sebagai satu-satunya wisudawan termuda dengan gelar sarjana kedokteran (S.Ke) dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM). Usianya masih 19 tahun, tapi karena kemampuannya, Ia lulus cumlaude dengan IPK 3,56.

Sepintas melihatnya, Ia tidak tampak seperti layaknya anak yang masih berusia remaja. Alex, demikian ia biasa disapa, memiliki tinggi badan 187 cm, berkulit putih dan berkacamata, tidak menyangka termasuk lulusan termuda.

Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Erwin Angianto (50) dan Anastasia Yulianti (46), bercerita jika dahulunya dia sudah masuk SD saat umur 5 tahun.

Alex mengaku sejak kecil tidak ada perlakukan khusus dari orang tua padanya. Bahkan dirinya termasuk orang yang tidak begitu memaksakan dirinya untuk belajar.

Ia lebih suka menghabiskan kesempatan bermain dengan anak seusianya. Yang unik dari dirinya, dia tidak suka mengasingkan diri untuk bisa belajar. Tapi lebih suka belajar saat mendengarkan guru mengajar.

"Saya akan lebih mudah menerima pelajaran saat saya banyak mendengarkan," kata pria kelahiran Balikpapan, Kaltim 30 Januari 1991 ini, usai upacara wisuda di Gedung Graha Saba Permana, UGM, Yogyakarta, Rabu, 19 Mei 2010.

Setelah Lulus dari SMAN 1 Balikpapan tahun 2006. Dia masuk FK UGM lewat jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS) UM UGM. Selama 3,5 tahun ia merampungkan kuliahnya dengan IPK 3,56.

Ketertarikannya untuk memilih pendidikan dokter muncul dari dirinya sendiri. Kendati begitu, sejak kecil ibunya yang kebetulan juga berprofesi sebagai seorang dokter juga menyarankan dirinya kelak menjadi dokter.

"Sejak kecil sudah diminta jadi dokter. Tapi memang keinginan itu (jadi dokter) sudah ada dari diri sendiri sejak masuk SMA," kata Alex yang bercita-cita ingin jadi dokter spesialis bedah ini.

Universitas Gajah Mada Yogyakarta mewisuda 1.301 Sarjana serta 215 Ahli Madya untuk Periode III Tahun Akademik 2009/2010, Rabu 19 Mei 2010, di Gedung Grha Sabha Pramana.

sumber

Senin, 10 Mei 2010

Perpustakaan Pertama di Dunia yang Mengagumkan

Perpustakaan berasal dari kata “Pustaka” yang berarti Kitab atau Buku. Menurut Sulistyo Basuki dalam bukunya Pengantar Ilmu Perpustakaan mengatakan bahwa “batasan perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang di gunakan untuk menyimpan buku ataupun terbitan lainnya yang biasanya di simpan dengan tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca,bukan untuk di jual.” Jadi dapat di simpulkan bahwa perpustakaan tak akan pernah jauh dari Buku –buku.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa perpustakaan merupakan hal yang sangat Fundamental dalam dunia pendidikan. Karena Perpustakaan selalu berkaitan dengan buku, dan buku akan selalu berkaitan dengan ilmu. Di ruang Perpustakaan seorang Ilmuwan dapat mencari refrensi penemuan – penemuan yang di temukan pendahulunya, dari perpustakaan seseorang dapat mengembangkan wawasan pemikirannya, di sana juga seseorang dapat seseorang dapat melakukan riset-riset kecil serta observasi-observasi dan kemudian memuatnya kembali dalam bentuk informasi baru yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Dan ini adalah sejarah salah satu Perpustakaan Tebesar dalam sejarah Dunia, Ialah Bibliotheca Alexandrina Egypt (Perpustakaan Iskandariah Mesir).

Bibliotheca Alexandrina Egypt (Perpustakaan Iskandariah Mesir) merupakan perpustakaan pertama dan terbesar di dunia. Perpustakaan ini bahkan bertahan selama berabad-abad dan memiliki koleksi 700.000 gulungan papyrus, bahkan jika di bandingkan dengan Perpustakaan Sorbonne di abad ke-14 ‘hanya’ memiliki koleksi 1700 buku.
Perpustakaan ini di dirikan oleh Ptolemi I sang penerus Alexander(Iskandariah) pada tahun 323 SM, dan terus berlanjut sampai kekuasaan Ptolemi III. Pada waktu itu para penguasa mesir begitu besemangat memajukan Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan mereka, bahkan dalam Manuskrip Roma mengatakan bahwa sang Raja mesir membelanjakan harta kerajaan untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000 lainnya berbentuk ringkasan tak berjilid. Ia juga memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya
Namun cerita keemasan ini hanya menjadi sejarah. Ialah ketuka penaklukan bangsa Romawi yang di pimpin oleh Julius Caesar pada tahun 48 SM. Bangsa Romawi membakar 400.000 buku musnah menjadi abu using yang tak berguna. Dunia ilmu saat itu sangat berduka karena telah kehilangan salah satu sumber ilmu pengetahuan terbaik saat itu. Namun akhirnya sang Kaisar, Julius Caesar meminta maaf, dan sebagai gantinya ia mengirim Marx Antonio untuk menghadiahkan 200.000 buku dari Roma kepada Ratu mesir saat itu, Cleopatra, dan dari inilah kisah mereka berlanjut.
Namun perpustakaan megah yang ada di mesir tersebut tak pernah kembali seperti masa – masa keemasanya. Sejak pembakaran tersebut, Perpustakaan Iskadariah solah tak terurus. Bahkan hampir menjadi artefak –artefak kuno saja. Akan tetapi, UNESCO memprakarsai untuk bekerja sama dengan pemerintah Mesir,membangun kembali perpustakaan dengan sejarah terbesar dalam sejarah tersebut. Dan pembangunan ini di mulai sejak tahun 1990-an. Pembangunan ini menghabiskan dana tak kurang dari US$ 220 juta. US 120 juta di tanggung pemerintah Mesir dan sisanya di tanggung dari bantuan Internasional dari Negara-negara lain. Akhirnya setelah terbengkalai hampir selama 20 Abad, Perpustakaan Iskandriah(Bibliotheca Alexandrina) berdiri megah dan unik. Bangunan utama berbentuk bulat beratap miring, terbenam dalam tanah. Di bagian depan sejajar atap, dibuat kolam untuk menetralkan suhu pustaka, terdiri lima lantai di dalam tanah, perpustakaan ini dapat memuat sekitar 8 juta buku. Namun yang ada saat ini baru 250.000 buku dan akan terus bertambah tiap tahun.Selain itu juga menyediakan berbagai fasilitas, seperti 500 unit komputer berbahasa Arab dan Inggris untuk memudahkan pengunjung mencari katalog buku, ruang baca berkapasitas 1.700 orang, conference room, ruang pustaka Braille Taha Husein khusus tuna netra, pustaka anak-anak, museum manuskrip kuno, lima lembaga riset, dan kamar-kamar riset yang bisa dipakai gratis.
Dan yang juga menarik,adalah lantai tengah perpustakaan tersebut terdapat Gallery Design dan bisa dilihat dari berbagai sisi. Di lantai kayu yang cukup luas itu terpajang berbagai prototype mesin cetak kuno dan berbagai lukisan dinding. Perpustakaan ini selalu dipenuhi pengunjung, padahal di Alexandria tidak banyak universitas seperti di Kairo. Ini menunjukkan tingginya minat baca masyarakat Mesir dan perpustakaan yang dulu dihancurkan Julius Caesar itu kini menjadi salah satu objek wisata sebagaimana Piramid Giza, Mumi, Karnax Temple, Kuburan para Firaun di Luxor atau Museum Kairo yang menyimpan timbunan emas Tutankhamun.


Isi di perpustakaan tersebut mengandung :

# Sebuah Perpustakaan yang dapat menampung jutaan buku.
# Sebuah Arsip Internet
# Enam khusus perpustakaan untuk
1. Seni, multimedia dan bahan-bahan audio-visual,
2. tunanetra,
3. anak-anak,
4. kaum muda,
5. microforms, dan
6. buku langka dan koleksi khusus
# Empat Museum untuk
1. Antiquities,
2. Naskah,
3. Sadat dan
4. Sejarah Sains
# Planetarium A
# Sebuah Exploratorium untuk eksposur anak terhadap ilmu (ALEXploratorium)
# Culturama: panorama budaya lebih dari sembilan layar, yang pertama kalinya dipatenkan 9-proyektor sistem interaktif. Pemenang banyak penghargaan, yang Culturama, dikembangkan oleh CULTNAT, memungkinkan penyajian banyak lapisan data, dimana presenter dapat klik pada item dan pergi ke tingkat baru detail. Ini adalah presentasi multi-media sangat informatif dan menarik warisan di Mesir 5.000 tahun sejarah untuk zaman modern, dengan highlights dan contoh-contoh dan Koptik Mesir Kuno / warisan Islam.
# VISTA (The Virtual Immersive Sains dan Teknologi Aplikasi sistem) adalah sebuah lingkungan Virtual Reality interaktif, yang memungkinkan peneliti untuk mengubah data set ke dalam dua-dimensi simulasi 3-D, dan ke langkah di dalamnya. Sebuah alat praktis visualisasi selama penelitian, VISTA membantu peneliti untuk mensimulasikan perilaku sistem alam atau manusia-rekayasa, bukan hanya mengamati sistem atau membangun model fisik.
# Delapan pusat penelitian akademik:
1. Alexandria dan Pusat Penelitian Mediterania (Alex-Med),
2. Arts Center,
3. Kaligrafi Pusat,
4. Pusat Studi Khusus dan Program (CSSP),
5. Sekolah Internasional Studi Informasi (ISIS),
6. Naskah Pusat,
7. Pusat Dokumentasi Budaya dan Warisan Alam (CultNat, terletak di Kairo), dan
8. Alexandria Pusat Studi Helenistik.
# Lima belas pameran tetap meliputi
1. Tayangan dari Aleksandria: Koleksi Awad,
2. Dunia Shadi Abdel Salam,
3. Arabic Kaligrafi,
4. Sejarah Percetakan,
5. Arab-Muslim Abad Pertengahan Instrumen Astronomi dan Sains (Penunggang Star), dan Pameran Tetap Seleksi Seni Kontemporer Mesir:
6. Para Artis Buku,
7. Mohie El Din Hussein: A Journey Kreatif,
8. Abdel Salam Idul Fitri,
9. The Raaya El-Nimr dan Abdel-Ghani Abou El-Enein Koleksi Seni Rakyat Arab,
10. Seif dan lemah Adham: Motion dan Seni,
11. Dipilih Artworks dari Henin Adam,
12. Dipilih Artworks Ahmed-Abdel Wahab,
13. Artworks Terpilih Hamed Saeed,
14. Dipilih Artworks dari Soliman Hassan, dan
15. Sculpture.
# Empat seni galeri untuk pameran temporer
# Sebuah Pusat Konferensi untuk ribuan orang
# Sebuah Forum Dialog yang memberikan kesempatan untuk pertemuan, dan diskusi dengan para pemikir, penulis dan penulis untuk membahas berbagai isu penting yang mempengaruhi masyarakat modern. Forum Reformasi Arab adalah hasil dari Konferensi Reformasi Arab pertama diselenggarakan pada tahun 2004

Ruangan Exterior





Ruangan Interior










Planetarium






source

Rabu, 27 Januari 2010

[PIC]Sekolah Teknologi Baru: dengan Papan Tulis Sentuh

Di Amerika Serikat papan tulis sekolah sedang diganti untuk interaktif, raksasa, sensitif sentuh layar komputer, yang memungkinkan siswa dan guru untuk berbagi tugas, menjelajahi web dan mengedit video menggunakan jari-jari mereka seperti pena, kata Wired News. Debu dan suara menyakitkan kuku menggaruk pada papan tulis yang di masa lalu.


Siswa menggunakan papan untuk mendemonstrasikan solusi untuk masalah-masalah matematika, mereka anak-anak menggambar di papan dengan ujung jari mereka dan menjelaskan kepada kelas bagaimana mereka datang dengan jawaban mereka.
"Ini benar-benar membantu dengan motivasi," kata Eliza Bang, guru kelas. "Sebagai platform untuk mendorong kerja kelompok, itu biasa."


Guru dapat menampilkan slide-show atau bahkan video. Sekarang mungkin untuk membuka halaman web dengan informasi yang berguna hanya dalam hitungan detik.
Papan tulis interaktif dapat ditemukan di lebih dari 150.000 ruang kelas di US, dan teknologi juga tumbuh secara internasional, dengan hadir di 75 negara


Dan ada begitu banyak kemampuan untuk "murid nakal" untuk menunjukkan sesuatu yang disensor pada layar lebar pada saat pelajaran! ..

Sumber