Halaman

Kamis, 17 September 2009

T-Rex Ternyata Pengecut, Suka Membunuh Bayi

Petunjuk terbaru mengindikasikan bahwa meski bertampang garang, T-Rex (Tyrannosaurus rex) mungkin bertingkah seperti pengecut. T-Rex lebih tepat disebut "pembunuh bayi" karena suka mangsa kecil untuk ditelan bulat-bulat daripada mencari mangsa yang seukuran.

"Hewan seperti tyrannosaurus sering dipandang sebagai mesin pembunuh sempurna dengan gigitan yang sangat kuat, yang sanggup menjatuhkan mangsa terbesar sekalipun," ungkap Oliver Rauhut, paleontolog di Universitas Ludwig Maximilian Munich di Jerman.

Akan tetapi, meskipun jumlah karnivora raksasa sepanjang zaman dinosaurus sangatlah banyak, yang mengejutkan hanya ada sedikit tanda gigitan pada fosil yang ditemukan jika dibandingkan dengan umur mamalia. Bahkan, ketika diteliti dengan lebih detail, bekas cakaran dan tusukan pada sebagian besar fosil mengindikasikan bahwa itu terjadi secara tidak sengaja.

"Sangat sedikitnya fosil yang menunjukkan bekas perburuan dinosaurus predator terhadap herbivora yang besar menunjukkan sebuah kisah kegagalan, mangsa berhasil kabur, atau baik mangsa maupun predator terbunuh," tambah Rauhut.

Hal tersebut diketahui dari hasil investigasi terhadap fosil-fosil dinosaurus bertanduk tiga, triceratops yang dikenal juga sebagai petarung. Fosil-fosil tersebut seharusnya menunjukkan bukti serangan tyrannosaurus atau dinosaurus raksasa lainya terhadap triceratops.

"Kami bukan mengatakan bahwa pertempuran dahsyat tidak pernah terjadi di antara para dinosaurus," ungkap David Hone, paleontologist di Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology of China di Beijing. "Saya tidak mau merusak drama aslinya. Tapi kita harus melihat dengan serius tentang apa yang umum terjadi dalam dunia dinosaurus, dan kemungkinan itu tidak melibatkan T-Rex yang memburu dan ingin mencabik-cabik triceratops seberat 8 ton dengan tanduk sepanjang 1 meter."

Sebaliknya, Rauhut dan Hone menunjukkan bahwa karnivora raksasa kebanyakan memakan dinosaurus yang masih muda, termasuk tulang-tulangnya. Itu sekaligus menjelaskan mengapa fosil dengan bekas gigitan sangat jarang ditemukan.

"Tidak seperti saudara mereka yang telah dewasa dan memiliki senjata, hewan-hewan muda ini tidaklah membahayakan bagi predator," ungkap Rauhut. Tulang mangsa yang lunak akan memberikan asupan mineral yang penting bagi para karnivora tersebut.

Fakta bahwa karnivora raksasa menelan tulang-tulang sangatlah jelas. Fosil kotoran mereka sering mengandung serpihan tulang, menunjukkan bahwa mereka menelan tulang-tulang rusuk, tulang punggung, dan tulang-tulang kecil lainnya ketika makan. Yang menarik, buaya, salah satu saudara terdekat dinosaurus, memiliki cairan asam yang sangat kuat dalam perut mereka yang digunakan untuk mencerna tulang mangsanya.

Sebagai bukti tambahan untuk ide mereka, para peneliti menunjukkan bahwa penemuan pada sarang dinosaurus mengindikasikan bahwa terdapat telur dalam jumlah yang sangat besar yang seharusnya menghasilkan jumlah keturunan yang sangat banyak. Namun, yang mengejutkan, fosil dinosaurus muda sangatlah langka. Kemungkinan karena kebanyakan dari mereka telah dimakan oleh predator.

Sangatlah masuk akal jika karnivora sehebat T-Rex pun mengincar dinosaurus muda. Sedikitnya, penemuan dinosaurus dengan perut yang berisi makanan menunjukkan bahwa mangsa yang kecil ditelan bulat-bulat. Bahkan, predator modern pun memilih mangsa yang tua dan sakit atau mangsa muda yang tidak berpengalaman. Mereka ini adalah mangsa yang mudah untuk dikalahkan dan risiko predator untuk terluka jauh lebih kecil. Kemungkinan strategi semacam ini juga diterapkan oleh dinosaurus.

Untuk menguatkan bukti-bukti atas pendapat tersebut, Rauhut mengusulkan survei terhadap koleksi fosil yang ada dan mencari serpihan dan tulang dengan bekas asam perut di lokasi ekskavasi yang baru. Holtz juga mengusulkan diadakan penelitian jejak kaki dinosaurus untuk melihat rentang jejak umur dinosaurus sehingga bisa mendapatkan gambaran tentang tingkatan kematian.

source: kompas.com