Halaman

Selasa, 15 Desember 2009

Media Inggris: Video Eksekusi Macan Tamil Bukan Rekayasa

LONDON (SuaraMedia News) – Rekaman video yang menunjukkan para prajurit Sri Lanka tengah mengeksekusi para tahanan dalam tahapan akhir pertempuran pasukan Sri Lanka dengan gerakan Macan Tamil, ternyata memang rekaman video asli, demikian diungkapkan oleh sebuah surat kabar Inggris pada hari Selasa (15/12).

Pasukan Macan Tamil selama masa perlawanan di Sri Lanka yang berakhir Mei 2009 silam. (SuaraMedia News)

Video tersebut, yang ditayangkan di Channel 4 Inggris pada bulan Agustus silam, kala itu langsung dibantah oleh militer Sri Lanka dan dinyatakan sebagai rekaman video palsu yang disebarkan dengan tujuan utama untuk mendiskreditkan pasukan keamanan Sri Lanka yang mengalahkan gerilyawan Macan Tamil pada bulan Mei lalu, setelah terlibat dalam konflik berkepanjangan yang berlangsung selama berpuluh-puluh tahun.

Juru bicara militer Sri Lanka, Brigadir Udaya Nanayakkara, mengatakan bahwa apa yang ditayangkan oleh Channel 4 itu adalah sebuah rekayasa untuk mendiskreditkan pasukan keamanan yang telah mengalahkan separatis Tamil d pertengahan Mei.

“Komisi Tinggi telah menyebutkan banyak contoh di masa lalu ketika berbagai institusi media menggunakan video, foto, dan dokumen yang dipalsukan untuk memfitnah pemerintah dan militer Sri Lanka,” ujarnya.

Video kontroversial tersebut muncul tiga bulan setelah pemerintah Sri Lanka melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap LTTE dan menangkap para anggotanya di kota Kilinochi.

The Times mengatakan bahwa menurut hasil analisis yang dilakukan oleh pakar video forensik, disimpulkan bahwa sama sekali tidak ada bukti rekayasa digital, pengeditan atau penambahan efek khusus lainnya.

“Detil halus seperti ini tidak dapat direproduksi. (Video) ini jelas merupakan rekaman asli,” kata Grant Fredericks, sang pakar video forensik.

Pemimpin kelompok Macan Tamil, Velupillai Prabhakaran (tg), merupakan salah satu orang yang tewas dalam pertempuran berdarah antara pasukan Sri Lanka dan kelompok Macan Tamil pada bulan Mei 2009 silam. (SuaraMedia News)

Fredericks, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala unit video forensik di kepolisian Vancouver, Kanada, dan juga instruktur di Akademi Nasional FBI, menuliskan analisis tersebut dalam surat kabar.

Tayangan sadis tersebut menunjukkan gambar seorang pria yang mengenakan seragam militer menembak seorang pria yang tidak berbusana, diikat dan ditutup matanya, tembakan tersebut dilakukan tepat di bagian belakang kepala, sementara jasad delapan orang lainnya bisa dilihat bergelimpangan berkalang lumpur di sekitar lokasi penembakan tersebut.

Menjelang akhir tayangan video, seorang pria kesepuluh juga ditembak dengan cara yang sama. Sementara orang-orang (militer Sri Lanka) yang ada di belakang merasa bangga dan puas dengan pembunuhan tersebut.

Kepada surat kabat tersebut, Fredericks mengatakan bahwa ada bukti kuat untuk menyatakan bahwa rekaman tersebut asli, bukan rekayasa dengan menggunakan “aktor”. “Bahkan jika peluru yang ditembakkan adalah peluru hampa, moncong senjata berjarak terlalu dekat dengan kepala, sehingga tembakan tersebut akan menimbulkan cedera serius atau bahkan kematian,” katanya.

Dalam laporannya kala itu, Channel 4 mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat melakukan verifikasi terhadap keaslian rekaman video yang diperoleh dari sebuah kelompok di Sri Lanka yang menyebut diri Jurnalis untuk Kebebasan.

Kelompok tersebut mengklaim bahwa rekaman video tersebut diambil pada bulan Januari silam oleh seorang prajurit dengan menggunakan fasilitas perekam video di telepon seluler.

Laporan surat kabar tersebut dipublikasikan hanya berselang beberapa hari setelah mantan kepala pasukan Sri Lanka menuding menteri pertahanan Sri Lanka telah memerintahkan pembunuhan berdarah dingin terhadap para pemimpin gerakan Macan Tamil yang sebenarnya telah menyerahkan diri menjelang berakhirnya perang berkepanjangan tersebut.

Tudingan tersebut langsung memantik penolakan penuh kemarahan dari kementerian hak asasi manusia.

Otoritas Sri Lanka menolak seruan internasional yang menginginkan proses investigasi kejahatan perang setelah PBB menyatakan bahwa ada lebih dari 7.000 orang warga sipil yang telah dibunuh dalam empat bulan pertama tahun 2009.

Kelompok Macan Tamil pada akhirnya dapat dikalahkan pada bulan Mei lalu setelah berpuluh-puluh tahun terlibat pertempuran berdarah dengan pemerintah Sri Lanka. Pertempuran tersebut mengakibatkan 80.000 hingga 100.000 orang tewas.(/www.suaramedia.com)